Minggu, 18 Desember 2011

Makalah Linguistik (Semantik)


Semantik
Menurut Chomsky pada bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa
semantik adalah merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain
adalah sintaksis dan fonologi) dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen
semantik.
1. HAKIKAT MAKNA
Pengertian atau makna yang dimiliki setiap morfem, baik yang disebut
morfem dasar atau morfem afiks.
Mengingat bahasa itu bersifat arbitrer (bebas, tidak terikat) maka hubungan
antara kata dan maknanya juga bersifat arbitrer. Di dalam penggunaannya dalam
pertuturan nyata makna kata atau leksem itu seringkali dan mungkin juga biasanya
terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga acuannya. Oleh karena itu,
banyak pakar bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata
itu sudah berada dalam konteks kalimatnya.
2. JENIS MAKNA
a. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
 Makna Leksikal : makna yang dimiliki atau pada leksem / kata meski
tampak tanpa konteks apapun atau makna yang
sebenarnya.
 Makna Gramatikal : baru ada kalau terjadi proses gramatikal. Contoh :
prefiks ber-
 Makna Kontkestual :   makna sebuah kata atau leksem yang berada didalam
satu kompleks. (berkenaan dengan situasinya).
b. Makna Referensial dan Non-referensial
Makna referensial bisa terjadi jika kalau ada referensinya atau acuannya dalam
dunia nyata.c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
 Makna Denotatif : makna asli, makna asal, akna sebenarnya yang
dimilikioleh sebuah kata atau leksem.
 Makna Konotatif : makna lain yang ditambahkan atau makna kiasan.
d. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
 Makna Konseptual : makna yang dimiliki oleh sebuah kata terlepas dari
konteks atau asosiasi apapun. Makna konseptual
sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal,
makna denotatif dan makna referensial.
 Makna Asosiasi : makna lain yang ditambahkan atau makna kiasan.
e. Makna kata dan Makna Istilah
Makna kata masih bersifat umum, kasar dan tidak jelas, baru menjadi
jelas jika suatu kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya / atau konteks
situasinya.  Sedangkan makna istilah mempuyai makna yang pasti, jelas, tidak
meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sehingga sering dikatakan bahwa
istilah itu bebas konteks sedangkan makna kata tidak bebas konteks. Lebih lagi
istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
f. Makna Idiom dan Peribahasa
 Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari
makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.
Idiom dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Idiom penuh  : idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur
menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari
seluruh kesatuan itu.
Contoh  :  membanting tulang, meja hijau.
2. Idiom sebagian :  idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki
makna leksikal sindiri.
Contoh  :  buku putih, terdiri dari dua makna, yakni buku dan putih.
 Peribahasa  : idiom yang memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau
dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi
antara makna asli dengan maknanya.3. RELASI MAKNA
Adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu
dengan satuan bahasa yang lain.
Masalah-masalah yang dibicarakan pada relasi makna  :
1. Sinonim :  hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna
antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Contoh : benar = betul.
Faktor ketidaksamaan dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan
sama persis adalah  :
1. Faktor waktu, contoh  :  hulubalang dan komandan
2. Faktor tempat, contoh  :  saya dan beta
3. Faktor keformalan, contoh  :  uang dan duit
4. Faktor sosial, contoh  :  saya dan aku
5. Faktor bidang kegiatan, contoh  :  matahari dan surya
6. Faktor nuansa makna, contoh  :  melihat, melirik, menonton
2. Antonim :  hubungan semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan, pertentangan dengan ujaran yang lain.
Contoh  :  hidup x mati
Jenis antonim  :
1. Antonim yang bersifat mutlak, contoh  :  diam x bergerak
2. Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh  :  jauh x dekat
3. Antonim yang bersifat relasional, contoh :  suami x istri
4. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh  :  tamtama x bintara
3. Polisemi
Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh  : kata kepala  : 1.  Kepala yang berarti bagian tubuh yang bagian atas.
2.  Kepala yang menyatakan pimpinan
4. 4.1  Homonim
Adalah dua kata kebetulan bentuk, ucapan, tulisannya sama tetapi beda makna.
Contoh  :  Bisa   :  1.  Bisa yang berarti racun
2.  Bisa yang berarti dapat atau mampu4.2  Homofon
Adalah dua kata yang mempunyai kesamaan bunyi tanpa memperhatikan
ejaanya, dengan makna yang berbeda.
Contoh  :  1. Bang  :  sebutan saudara laki-laki
2. Bank  :  tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
4.3  Homograf
Adalah dua kata yang memiliki ejaan sama, tetapi ucapan dan maknanya beda.
Contoh  : 1.  Apel  :  buah
2.  Apél  :  rapat, pertemuan
5. 5.1  Hiponim
Adalah sebuah bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk ujaran lain.
5.2 Hipernim
Bagian dari hiponim.
Contoh  : Hiponim  :  buah-buahan
Hipernim  dari buah-buahan misalnya anggur.
6. Ambiguiti / Ketaksaan
Adalah gejala yang terjadi akibat kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal
yang berbeda. Tergantung jeda dalam kalimat.
7. Redundansi
Adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk
ujaran
4. PERUBAHAN MAKNA
Ada 5 faktor yang menyebabkan makna sebuah kata berubah  :
1. Perkembangan IPTEK
2. Perkembangan sosial budaya
3. Perkembangan pemahaman kata
4. Pertukaran tanggapan indera
5. Adanya asosiasi5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
a. Medan Makna (semantic domain, semantic field atau semantic leksikal)
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena
menggambarkan bagian dari bidang dari kebudayaan / realitas dalam alam
semesta tertentu.  Misal : nama-nama warna, nama-nama perkerabatan.
b. Komponen Makna
Adalah makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen
yang membentuk keseluruhan makna.
Dalam menentukkan komponen makna yang diperlukan analisis komponen
makna, manfaat dari analisis ini adalah  :
1. Mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.
2. Membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi dan
komposisi dalam bahasa Indonesia.
3. Meramalkan makna gramatikal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar